Namun katanya, di balik capaian tersebut, ia mengingatkan masih terdapat pekerjaan besar yang harus diselesaikan. Sebab, sebagian besar teknologi, rekayasa industri, permodalan hingga akses pasar masih bergantung pada mitra asing.
Indonesia sambungnya, membutuhkan lompatan paradigma, yakni dari sekadar mengejar nilai tambah menuju pembangunan kapabilitas nasional.
Baginya lebih jauh dipaparkan, kemampuan suatu bangsa tidak hanya ditentukan oleh besarnya sumber daya alam yang dimiliki, tetapi juga oleh kemampuan mengolah, mengembangkan, dan terus memperbarui teknologi serta industrinya sendiri.
“Terdapat empat pilar yang harus dibangun secara bersamaan agar Indonesia mampu mencapai kedaulatan produktif,” kata Lessy.
Pilar pertama adalah penguasaan teknologi dan inovasi melalui penguatan riset industri, kolaborasi antara perguruan tinggi dan dunia usaha, serta kewajiban transfer teknologi yang nyata dalam setiap investasi strategis.
Pilar kedua adalah pembangunan sumber daya manusia. Menurut Umar, Indonesia harus memperkuat pendidikan vokasi, memperbanyak insinyur, teknisi, dan tenaga ahli, sekaligus menciptakan ekosistem yang mampu mempertahankan talenta terbaik agar keahlian mereka berkembang di dalam negeri.










