Lessy menyebutkan, di sisi lain, perubahan geopolitik global, meningkatnya proteksionisme perdagangan, hingga tantangan lingkungan menjadi faktor yang harus diantisipasi sejak dini agar Indonesia tidak terjebak sebagai negara berpendapatan menengah yang hanya menjadi lokasi produksi bagi industri global.
Lessy menawarkan peta jalan pembangunan industri menuju Indonesia Emas 2045 yang dibagi dalam tiga tahapan. Pada periode 2025–2029, pemerintah perlu memperkuat fondasi melalui investasi pada riset, pendidikan vokasi, transfer teknologi, dan peningkatan kandungan lokal.
Ditandaskan, Tahap berikutnya, 2030–2039, diarahkan pada pengembangan industri bernilai tambah tinggi, lahirnya inovasi nasional, dan tumbuhnya perusahaan-perusahaan Indonesia yang mampu bersaing secara global.
Sementara menurutnya, pada fase 2040–2045, Indonesia ditargetkan telah menguasai teknologi inti, memiliki industri nasional yang kuat, serta mampu menentukan arah produksinya sendiri tanpa ketergantungan yang berlebihan terhadap kekuatan asing.
“Pemerintah menjadikan transfer teknologi sebagai syarat yang mengikat dalam setiap investasi hilirisasi, memperkuat pembiayaan bagi riset dan inovasi, mengintegrasikan UMKM ke dalam rantai pasok industri nasional, serta menjaga konsistensi kebijakan pembangunan lintas pemerintahan,” tuturnya.










