Diskusi berlangsung interaktif dengan mengangkat sejumlah persoalan mendasar, seperti keterbatasan akses buku, distribusi tenaga pendidik, serta peran generasi muda dalam menjembatani kesenjangan pendidikan di Indonesia Timur, khususnya di Maluku dan Maluku Tengah.
Cantika juga menyoroti tingginya semangat belajar anak-anak di kawasan tersebut yang belum sepenuhnya diimbangi dengan ketersediaan sumber belajar.
Ia menilai, inisiatif kecil yang dilakukan secara konsisten oleh pemuda dapat membawa perubahan nyata. “Banyak anak di Indonesia Timur memiliki semangat belajar tinggi, tetapi akses terhadap buku dan informasi masih terbatas. Gerakan kecil dari pemuda bisa menjadi awal perubahan,” tegasnya.

Sementara itu, Bunga Elly selaku penanggung jawab kegiatan menyampaikan bahwa acara ini sengaja digelar secara terbuka untuk mendorong partisipasi publik dalam isu pendidikan.
“Pendidikan adalah tanggung jawab bersama. Diskusi seperti ini penting untuk menjaga optimisme dan memperkuat kolaborasi,” ujarnya. Peluncuran “Kaka Guru” menjadi momentum penting dalam mendorong kesadaran kolektif tentang pentingnya literasi.
Lebih dari sekadar kegiatan literasi, acara ini menegaskan bahwa perubahan dapat dimulai dari ruang-ruang sederhana, melalui keterlibatan aktif pemuda yang peduli terhadap masa depan pendidikan Indonesia Timur. (***)










