Basyir menilai, jika kondisi ini terus dibiarkan maka akan muncul kekecewaan kolektif. Karena itu ia menyerukan perlunya “kudeta pemikiran”artinya perubahan cara berpikir dan keberanian anak muda merebut ruang kepemimpinan, bukan dengan kekerasan.
“Saatnya ada gerakan perubahan. Bukan kudeta fisik, tapi kudeta gagasan. Anak muda Maluku harus masuk ke politik, birokrasi, dan kebijakan. Kita lawan ketimpangan dengan ide, data, dan kerja nyata,” katanya. *










