Basyir Tuhepaly: Suara Rakyat Bukan Kriminal, Tapi Mitra Demokrasi
DI TENGAH dinamika demokrasi hari ini, Ketua Umum Pengurus Cabang (PC Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah) Kota Ambon, Basyir Tuhepaly, mengingatkan pentingnya menjaga nalar kritis dalam berdemokrasi.
Menurutnya, aktivis boleh membangun relasi dengan pemerintah, politisi, dan aparat penegak hukum. Namun relasi itu tidak boleh mematikan fungsi kontrol sosial.
“Demokrasi bukan sekadar soal pemilu lima tahunan atau seremonial di gedung parlemen. Demokrasi adalah cara kita hidup bersama sebagai bangsa. Ia menuntut keseimbangan antara Eksekutif yang bekerja, Legislatif yang mengawasi, dan Yudikatif yang menjaga keadilan,” tegas Basyir dalam keterangannya di Ambon, Kamis (9/7/26).
Basyir menekankan, kekuatan tertinggi demokrasi tetap berada di tangan rakyat. Mahasiswa, akademisi, buruh, nelayan, dan warga biasa yang memilih untuk tidak diam adalah jantung demokrasi.
Ia mengajak agar masyarakat menjadi mitra yang kritis, solutif, dan kolaboratif bagi pemerintah daerah.
“Kritik tanpa alternatif hanya akan jadi kebisingan. Sementara dukungan buta tanpa evaluasi hanya melahirkan kekuasaan yang abai. Di sinilah peran pembelajar diuji: berani bersuara dengan dasar data, nalar, dan kepentingan publik,” ujarnya.










