SEBAGAI wilayah arkipelago dengan luas lautan mencapai lebih dari $90%$, Maluku secara kodrati adalah ruang hidup maritim.
Wilayah ini berdiri di atas tiga Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP) krusial Indonesia, yaitu WPP 714 (Laut Banda), WPP 715 (Laut Seram), dan WPP 718 (Laut Arafura).
Laut Arafura sendiri dikenal secara global sebagai salah satu kawasan perikanan paling produktif di dunia karena fenomena upwelling yang kaya nutrisi.
“Potensi lestari sumber daya ikan di perairan Maluku diperkirakan mencapai jutaan ton per tahun, menjadikannya tulang punggung utama bagi ketahanan pangan protein nasional,” kata Menejer Program Dan Pemberdayaan Yayasan Buminusa, Yatrsib Akbar Sowakil S.Pi, M.Si
Sejarah mencatat bahwa keterikatan masyarakat Maluku dengan laut bukan sekadar hubungan ekonomi, melainkan hubungan eksistensial.
Sowakil mengatakan, selama berabad-abad, komunitas pesisir Maluku berkembang melalui pola pengelolaan tradisional yang adaptif dan menghormati alam.
Namun, peta politik pasca-kolonial mengubah segalanya. Ketika Indonesia mengadopsi paradigma pembangunan yang bias daratan (land-based bias) dan sentralistik, wilayah kepulauan seperti Maluku perlahan-lahan ditarik ke pinggiran.










