Menurut Vanath, dana transfer dari pemerintah pusat selama ini menjadi salah satu penggerak utama perekonomian daerah.
“Namun, penurunan alokasi transfer akibat kebijakan efisiensi anggaran pada tahun 2025 dan 2026 memberikan dampak signifikan terhadap perputaran ekonomi di masyarakat,” ujarnya.
Kata Wagub, pertumbuhan ekonomi salah satunya dipengaruhi oleh jumlah uang yang beredar. Ketika dana yang beredar berkurang, tentu akan berdampak pada kemampuan daerah dalam mendorong pertumbuhan ekonomi.
Lebih lanjut, Wagub mengajak seluruh pihak untuk memahami karakteristik dan tantangan pembangunan di Maluku yang didominasi sektor pertanian, perkebunan, dan kelautan.
Ia mendorong masyarakat untuk terus mengembangkan komoditas unggulan daerah seperti cengkeh, pala, kelapa, dan kakao sebagai sumber penghidupan yang berkelanjutan.
“Kita harus terus bekerja dan mencari berbagai solusi terbaik untuk masyarakat. Semoga kondisi fiskal nasional semakin membaik dan dana transfer ke daerah dapat kembali pulih sehingga pembangunan dan program pengentasan kemiskinan dapat berjalan lebih optimal,” pungkasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Vanath juga mengungkapkan bahwa Pemerintah Provinsi Maluku telah mengusulkan program kepada Kementerian Pertanian berupa penyediaan bibit kakao bagi masyarakat yang disertai dukungan pendapatan bulanan.










