Pandangan tersebut sejalan dengan pemikiran Ki Hajar Dewantara yang menegaskan bahwa pendidikan merupakan upaya memanusiakan manusia dan membangun peradaban bangsa.
Dalam perspektif ini, dosen dan guru bukan hanya pekerja administratif, melainkan pilar utama transformasi sosial dan intelektual.
Selain itu, Samil juga menyinggung pemikiran Paulo Freire, yang melihat pendidikan sebagai instrumen pembebasan dan kesadaran kritis.
Menurutnya, pendidikan yang berkualitas hanya dapat berjalan apabila tenaga pendidik diberikan ruang, penghargaan, dan kesejahteraan yang memadai.
“Jika kita ingin membangun generasi emas 2045, maka dosen tidak boleh hidup dalam ketidakpastian ekonomi. Sulit membayangkan lahirnya inovasi, riset unggulan, dan daya saing global jika kesejahteraan tenaga pendidik masih terpinggirkan,” ujar Samil.
Ia menilai, bonus demografi yang kerap disebut sebagai peluang besar menuju 2045 justru dapat berubah menjadi ancaman apabila negara tidak serius membangun ekosistem pendidikan yang sehat, adil, dan berpihak pada tenaga pendidik.
Lebih lanjut, Samil menegaskan bahwa ketimpangan kesejahteraan dosen berpotensi melemahkan semangat generasi muda untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang doktoral, sebab realitas yang terjadi menunjukkan belum adanya kepastian penghargaan yang sepadan dengan perjuangan akademik.










