Ia justru menyatakan informasi dari masyarakat melalui media sosial penting untuk membantu pemerintah menangani kebakaran hutan dan lahan.
Meutya juga meminta platform digital lebih transparan mengenai algoritma dan penerapan pedoman komunitas yang dapat memengaruhi jangkauan unggahan.
Masyarakat yang merasa kontennya dibatasi diminta mengajukan pengaduan atau banding kepada platform terkait, sekaligus melaporkannya kepada Komdigi agar dapat ditindaklanjuti.
Polemik ini mencuat setelah sejumlah pengguna media sosial mengeluhkan penurunan jangkauan unggahan mengenai karhutla.
Salah satunya adalah kreator konten Tasya Farasya, yang mengaku jumlah penonton Instagram Stories miliknya turun dari biasanya sekitar satu juta menjadi sekitar 85 ribu setelah mengunggah konten terkait karhutla.
Meski demikian, penurunan jumlah penonton tersebut belum membuktikan adanya pembatasan sistematis. Hingga ada penjelasan resmi dan bukti mengenai permintaan spesifik kepada platform, dugaan keterlibatan Komdigi dalam pemblokiran konten tersebut masih menjadi polemik. *










