“Secara antropologis, Sasi bukan sekadar alat pengelolaan lingkungan, melainkan refleksi kosmologi masyarakat Maluku yang memandang laut sebagai bagian dari persaudaraan hidup mereka yang harus dihormati kesuciannya,” ujarnya.
Namun, di bawah kontrol relasi kuasa perikanan modern, Sasi kerap ditabrak demi mengejar target produksi dan keuntungan instan korporasi.
Ditekankannya, yang lebih ironis, ketika negara mencoba mengadopsi Sasi, sistem adat ini mengalami domestikasi dan komodifikasi budaya.
Sasi dijinakkan dan diredusir hanya sebagai tontonan ritual eksotis demi menarik wisatawan, sementara fungsi penegakan hukum adatnya dilemahkan.
“Negara dan kapital merebut esensi ekonomi-politik dari Sasi, namun membiarkan lautnya dieksploitasi oleh industri,” tambahnya. (**)










