“Kami ingin menanamkan nilai-nilai persaudaraan, toleransi, dan kesadaran hukum sejak dini. Harapannya ketika mereka menjadi pemimpin di masa depan, mereka memiliki komitmen menjaga Maluku tetap damai dan harmonis,” jelasnya.
Tegas Kapolda bahwa proses rekrutmen anggota Polri dilaksanakan secara bersih, transparan, akuntabel, dan humanis sesuai prinsip BETAH (Bersih, Transparan, Akuntabel, dan Humanis), serta diawasi secara ketat untuk menjamin objektivitas dan kepercayaan publik.
Mengakhiri dialog, Kapolda kembali mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus menjaga semangat persaudaraan yang selama ini menjadi kekuatan utama Maluku dalam membangun perdamaian dan stabilitas sosial.
Penurunan signifikan angka konflik sosial dalam beberapa tahun terakhir menjadi indikator positif bahwa kolaborasi antara pemerintah, aparat keamanan, tokoh masyarakat, dan media massa mampu memperkuat ketahanan sosial masyarakat. “Maluku Tarus Biking Bae dan Basudara Tarus Biking Bae. Ini bukan sekadar slogan, tetapi komitmen bersama. Nilai pela gandong, persaudaraan, dan kearifan lokal harus terus kita jaga sebagai fondasi utama perdamaian di Maluku,” pungkasnya.
Di tengah tantangan era digital yang ditandai maraknya disinformasi dan polarisasi informasi, sinergi tersebut menjadi modal penting dalam menjaga stabilitas keamanan, memperkuat persatuan, dan mendukung pembangunan berkelanjutan di Maluku sebagai salah satu kawasan strategis di Indonesia Timur. **










