Diamnya begitu sempurna sampai suara nyamuk insomnia terdengar seperti konser stadion.
Padahal saat Hotman Paris dianggap melecehkan wartawan, gerakannya terkenal secepat diskon tanggal kembar. Belum sempat es teh mencair, laporan polisi sudah meluncur.
Kini kecepatannya berubah seperti kura-kura pegal yang sedang menarik kontainer batu bara.
Sementara itu, pemerintah menurunkan pasukan pembersih ucapan.
Dirjen Komunikasi Publik dan Media Komdigi, Fifi Aleyda Yahya, menjelaskan bahwa istilah tersebut hanyalah metafora politik dan tidak ditujukan kepada profesi wartawan.
Hasan Nasbi juga menjelaskan, Presiden tidak menyamaratakan semua wartawan, pengamat, dan LSM. Menurutnya, yang dimaksud hanyalah oknum yang bekerja untuk kepentingan asing.
Qodari pun meminta publik fokus pada substansi pidato.
Masalahnya, publik sedang fokus pada sesuatu yang lebih langka dari antrean kosong di SPBU.
Namanya, permintaan maaf.
Akhirnya yang terlihat paling lelah bukan Presiden, melainkan para tukang cuci ucapannya. Mereka menggosok, membilas, memoles, mengelap, menyetrika, bahkan mungkin mengasapi kalimat itu agar tampak wangi.
Kasihan juga. Sebab semakin dicuci, noda yang dilihat publik justru makin kelihatan.










