PERTUMBUHAN ekonomi Indonesia tahun ini diperkirakan hanya akan mencapai 5,3%, di bawah target APBN sebesar 5,4%. Kepala Ekonom Maybank Indonesia, Juniman menilai, pada kuartal III 2026, pertumbuhan diperkirakan melambat menjadi 5,2%. Sementara kuartal IV diproyeksikan berada di kisaran 5,2% hingga 5,25%.
Target pertumbuhan ekonomi 6% pada tahun depan juga dinilai membutuhkan dorongan lebih besar dari sektor swasta. “Mesin pertumbuhan harus dikerahkan, terutama di sektor swasta. Tanpa peran swasta, sulit bagi ekonomi kita untuk tumbuh di atas 6%,” kata Juniman kepada KONTAN, Minggu (20/9/2026).
Menurut Juniman, belanja pemerintah melalui APBN belum optimal mendorong pertumbuhan ekonomi. Meski kinerja APBN hingga Agustus 2026 masih terjaga, transmisi belanja ke sektor riil dan swasta masih terbatas. Sampai Agustus 2026, belanja APBN tumbuh 17,1% yoy, sementara pendapatan tumbuh 25,4% yoy, sehingga APBN mencatat defisit Rp 240 triliun atau 0,93% terhadap PDB. Keseimbangan primer juga masih surplus Rp 154 triliun.
“Keseimbangan primernya juga masih surplus, artinya pendapatan dikurangi belanja masih surplus,” ujar Juniman kepada Kontan, Minggu (20/9/2026). Namun, Juniman mengingatkan tekanan defisit akan meningkat mulai September. Pengeluaran pemerintah biasanya meningkat pada September hingga Desember, terutama untuk pembayaran subsidi energi dan non energi yang umumnya dilakukan setelah audit BPKP.















