Mantan Mendikbudristek Nadiem Makarim menceritakan pengalamannya saat pertama kali masuk ke dalam sel tahanan terkait kasus dugaan korupsi pengadaan laptop Chromebook. Kisah ini ia sampaikan saat membacakan nota pembelaan (pleidoi) di Pengadilan Tipikor Jakarta, Selasa (2/6).
Dalam persidangan, Nadiem secara terbuka mengungkap kondisi psikologisnya saat awal penahanan karena harus ditempatkan di dalam ruang isolasi. Ia mengaku seolah dunia terasa seperti berakhir.
“Di awal masa tahanan, dunia terasa seperti berakhir. Saya sendirian dalam kurungan isolasi, seolah dibuang begitu saja,” ungkap Nadiem saat membacakan pleidoinya. Nadiem juga mengaku kerap berhalusinasi dan berharap hal yang menimpanya hanyalah mimpi semata.
“Kadang kala saya terbangun tengah malam di rumah tahanan, dan untuk sekejap, saya mengira bahwa ini hanya mimpi buruk, dan sebentar lagi akan dibangunkan istri saya. Tapi yang saya lihat justru jeruji besi,” sambungnya.
Dari kondisi yang menekan itu, Nadiem menuturkan bahwa dirinya mendapat banyak pelajaran, mulai dari melatih kesabaran hingga memasrahkan diri kepada Tuhan.
“Tetapi melalui pengalaman pahit ini saya mendapatkan banyak pembelajaran. Saat kebebasan dirampas, tidak ada tempat lain bertualang kecuali ke dalam diri kita sendiri. Saya belajar untuk bersabar, suatu hal yang sulit untuk saya. Saya belajar untuk memasrahkan diri kepada Allah di saat yang tergelap. Dan dengan jalannya waktu, perlahan-lahan, saya belajar untuk mengheningkan pikiran saya,” tutur Nadiem.










