BeritaEkonomiNasionalPemerintahanUtama

Inflasi BPS 3,48 Persen, Purbaya: Sebetulnya 2,51 Persen

9
×

Inflasi BPS 3,48 Persen, Purbaya: Sebetulnya 2,51 Persen

Sebarkan artikel ini
Menteri Keuangan RI, Yudhi Sadewa - int

MENTERI Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menjelaskan tingkat inflasi Maret 22026 seharusnya berada di posisi 2,51 persen secara tahunan atau lebih rendah dibandingkan data Badan Pusat Statistik (BPS).

“Kita sekarang sebetulnya di 2,51 persen, jadi masih baik,” kata Purbaya dalam rapat kerja bersama Komisi XI DPR, Senin, 6 April 2026.

Sebelumnya, BPS mengumumkan inflasi tahunan pada Maret 2026 mencapai 3,48 persen. Tingkat inflasi pada akhir kuartal ketiga tahun ini nyaris mendekati batas atas target inflasi pemerintah. 

Mengutip Tempo.co, berbeda dari catatan BPS, menurut Purbaya, inflasi pada Maret 2026 hanya 2,51 persen. Bendahara negara menilai hasil inflasi Maret 2026 sebesar 3,48 persen disebabkan karena Badan Pusat Statistik menghitung diskon listrik yang berlaku pada tahun lalu. “Angka inflasi ini sering menimbulkan salah tanggapan yang 3,48 tadi. Itu seolah-olah ekonomi kita kepanasan,” tutur dia. 

Ia pun meyakini inflasi berada di kisaran 2,51 persen. Menurutnya, jumlah tersebut masih dalam kondisi baik dan memberikan ruang pertumbuhan ekonomi agar lebih ekspansif tanpa kenaikan harga secara signifikan. 

Pada 1 April 2026 lalu,, Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengatakan terjadi kenaikan Indeks Harga Konsumen dari 107,22 pada Maret 2025 menjadi 110,95 pada Maret 2026. Ateng menjelaskan, berdasarkan kelompok pengeluaran, inflasi tahunan utamanya didorong oleh kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga yang mengalami inflasi sebesar 7,24 persen.

“Komoditas dengan andil inflasi terbesar pada kelompok perumahan air, listrik dan bahan bakar rumah tangga yaitu tarif listrik,” katanya dalam konferensi pers.

Menurut Ateng, inflasi Maret 2026 masih dipengaruhi oleh low-based effect atau efek basis rendah akibat pemberian diskon tarif listrik pada Januari-Februari 2025. 

Kendati demikian, efeknya sudah mulai berkurang dibandingkan bulan lalu, yaitu ketika inflasi tahunan Februari tercatat mencapai 4,76 persen. “Kalau bulan Januari dan Februari pengaruhnya cukup lumayan, Maret ini pengaruhnya untuk low-based effect mulai sedikit,” ucap Ateng.

Ia menuturkan, meskipun pada Maret 2025 tarif listrik prabayar sudah kembali ke harga normal, tapi tarif pascabayar masih terpengaruh oleh diskon listrik.

Secara bulanan, BPS mencatat inflasi Maret sebesar 0,41 persen atau terjadi kenaikan IHK dari 110,50 pada Februari 2026 menjadi 110,95 pada Maret 2026. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya tercatat sebesar 1,65 persen. Sementara itu, inflasi tahun kalender tercatat sebesar 0,94 persen.

Ateng mengatakan kelompok pengeluaran penyumbang inflasi bulanan terbesar adalah makanan, minuman, dan tembakau dengan inflasi 1,07 persen dan memberikan andil inflasi sebesar 0,32 persen. “Komoditas yang dominan mendorong inflasi kelompok ini adalah ikan segar, daging ayam ras, beras, telur ayam ras, cabai rawit, minyak goreng serta daging sapi,” ujarnya. **

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *