Komunitas adat Elseng hidup berpindah-pindah, untuk menjaga batas-batas hak ulayat alias tanah leluhur mereka.
Ini dikatakan Nelson Teet, ondoafi Kampung Omon.
Ondoafi, menurut riset doktoral yang dilakukan antropolog asli Papua, Joshzua Robert Mansoben, merupakan pemimpin kelompok suku yang berada di daerah timur laut Tanah Papua di sekitar wilayah Jayapura.
Model kepemimpinan ondoafi, kata Mansoben, berlaku di sembilan suku, yaitu Skou, Arso-Waris, Tobati, Ormu, Sentani, Moi, Tabla, Demta, dan Nimboran. Namun ada satu suku lain yang disebut Mansoben juga menerapkan sistem ondoafi, yakni orang-orang Tabu—kelompok yang dia sebut hidup mengembara, lalu terdesak trasmigran, dan akhirnya punah karena menyatukan diri dengan suku-suku lainnya.
Tabu adalah istilah yang sepanjang puluhan tahun terakhir digunakan akademisi dan masyarakat awam untuk menyebut suku Elseng. Fakta ini didapatkan pakar linguistik Willem Burung dalam risetnya untuk Universitas Leiden pada 2000.

Dikutip dari BBC Indonesia, Willem mengutip penjelasan Yustus Nisap, laki-laki Elseng yang meninggalkan komunitasnya pada 1978 saat bermigrasi ke Nimboran demi bisa duduk di bangku sekolah.
Yustus, kata Willem, sempat berniat kembali ke komunitasnya, tapi terhalang konflik bersenjata yang pecah di Lembah Grime Nawa pada 1980-an, antara ABRI dan milisi pro-kemerdekaan.










