Memang bodat juga oknum staf di tubuh KPK. Di gedung megah, Merah Putih ternyata ada spesies tikus got gorong-gorong. Ia menyuplai data orang-orang yang layak diperas.
Hasilnya, terjadi saling peras-memeras bernilai miliaran rupiah. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!
Selama ini, setiap kali terdengar kata pemerasan, pertama kali dituding biasanya oknum wartawan, oknum LSM, atau preman pasar.
Mereka dicap sebagai pemburu amplop, pemburu proyek, pemburu ketakutan para pejabat. Stigma itu begitu lama dipelihara hingga seolah menjadi wajah utama praktik pemerasan di negeri ini.
Namun kasus yang menyeret oknum KPK dan Bupati Pemalang justru menghadirkan ironi jauh lebih menyakitkan. Dugaan peras-memeras ternyata bisa lahir dari lingkaran kekuasaan yang seharusnya menjadi benteng terakhir pemberantasan korupsi.
Ini bukan lagi cerita tentang preman jalanan, melainkan tentang penyalahgunaan kewenangan jauh lebih mengerikan.
KPK selama ini dibangun dengan keringat, darah, dan harapan rakyat. Lembaga ini dipercaya sebagai rumah terakhir ketika polisi, jaksa, atau hakim kehilangan kepercayaan publik akibat ulah oknum. Namun kepercayaan adalah barang sangat mahal. Sekali retak, tidak ada konferensi pers mampu merekatkannya kembali.










