Dengan begitu, maka konversi devisa hasil ekspor juga belum optimal, sementara pasar keuangan domestik belum cukup dalam untuk menyerap perubahan arus modal dalam jumlah besar. “Ketika tekanan global, penurunan kepercayaan investor, dan persoalan struktural muncul bersamaan, rupiah menjadi lebih rentan dibandingkan mata uang negara tetangga,” ucapnya.
Sementara itu, Analis Mata Uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, memperkirakan rupiah masih dalam tekanan terkait ancaman MSCI. Menurutnya, sanksi yang diberikan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) serta hearing dari Bursa Efek Indonesia (BEI) dapat membantu memulihkan kepercayaan pasar. Namun, dampaknya terhadap rupiah kemungkinan tidak akan instan.
“Investor akan melihat apakah langkah tersebut benar-benar diikuti penegakan aturan yang konsisten dan perbaikan transparansi pasar, sesuai dengan kekhawatiran MSCI. Investor juga menantikan RDGBI minggu depan. Range Rp 17.950 hingga Rp 18.150,” ujar Lukman kepada JawaPos.com.
Menanggapi potensi rupiah menyentuh level Rp 20.000 per dolar AS, Lukman mengatakan kemungkinan tersebut tetap ada di tengah ketidakpastian global. Sejumlah faktor yang perlu dicermati antara lain pergerakan harga minyak dunia dan prospek kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (The Fed).










