“Keduanya belum terlihat saat ini. Cadangan devisa sebesar USD 146,3 miliar pada akhir September juga masih memberikan ruang bagi BI untuk menjaga stabilitas pasar,” ucapnya. Yusuf mengatakan, pelemahan rupiah dapat dijelaskan melalui tiga lapisan yang saling memperkuat. Lapisan pertama berasal dari faktor global yang berasal dari Yield US Treasury tenor 10 tahun masih berada di atas 5 persen, sedangkan inflasi AS meningkat akibat tekanan harga energi.
“Kondisi tersebut membuka peluang kenaikan suku bunga The Fed dan membuat aset dolar lebih menarik dibandingkan aset negara berkembang,” ungkapnya. Sedangkan untuk lapisan kedua berasal dari dalam negeri yaitu sorotan Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang menyoroti tata kelola pasar modal meningkatkan kekhawatiran investor dan menaikkan premi risiko Indonesia.
Mengutip JawaPos.com, Yusuf mengatakan, tekanan itu terlihat dari arus keluar dana asing di pasar saham yang mencapai Rp 84,2 triliun sepanjang 2026. Pada saat yang sama, selisih imbal hasil SUN terhadap US Treasury semakin tipis.
“Investor asing akhirnya menerima kompensasi yang lebih kecil ketika risiko kurs dan risiko domestik justru meningkat,” ujar Yusuf. Ia melanjutkan, lapisan ketiga bersifat struktural, akibat adanya ketergantungan pada impor energi membuat kebutuhan dolar meningkat ketika harga minyak naik.










