Bodewin menilai, meski sebuah gerai usaha terlihat tidak terlalu besar dari sisi jumlah tenaga kerja, setiap lapangan pekerjaan yang tercipta tetap memiliki arti penting bagi masyarakat.
Ia mencontohkan, apabila satu outlet mampu menyerap sekitar 10 tenaga kerja, maka setidaknya ada 10 warga Kota Ambon yang memperoleh sumber penghasilan.
“Kalau outlet Point Coffee ini pekerjakan saya sepuluh orang saja, sudah lumayan untuk Kota Ambon,” tuturnya.
Bagi Pemerintah Kota Ambon, bertambahnya pelaku usaha merupakan bagian dari dinamika pertumbuhan ekonomi daerah. Kehadiran Point Coffee tidak hanya memperkaya pilihan usaha dan kuliner bagi masyarakat, tetapi juga membuka peluang kerja serta ruang bagi anak-anak muda Ambon untuk mendapatkan pengalaman di daerah sendiri.
Sebagai outlet kedua setelah Bali, kehadiran Point Coffee di Ambon juga menandai langkah perusahaan dalam memperluas jaringan usaha ke kawasan Indonesia Timur. Ekspansi tersebut sekaligus menunjukkan adanya peluang pasar yang terus berkembang di Kota Ambon.
Bodewin menegaskan, pemerintah daerah terbuka terhadap investasi dan perkembangan dunia usaha. Namun, pertumbuhan ekonomi diharapkan berjalan seiring dengan manfaat yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.















