Dalam kesempatan tersebut, Gobel juga menyoroti maraknya impor ilegal yang sangat besar, ditambah lagi dengan dibukanya keran impor resmi untuk produk-produk seperti tekstil, handicraft, dan mebel. Khusus untuk barang elektronik, Gobel menyampaikan pesan tegas.
“Kalau barang elektronik sudah diproduksi di Indonesia, jangan diimpor lagi, Pak. Cukup itu yang saya minta,” tegas Gobel.
Menurut Gobel, industri bukan sekadar tempat membuat barang. Dalam situasi damai, industri adalah industri kesejahteraan yang menciptakan lapangan kerja dan kesejahteraan rakyat. Namun dalam kondisi darurat seperti sekarang, industri juga harus berfungsi sebagai industri pertahanan yang menjaga ketahanan ekonomi bangsa.
Di akhir sambutannya, Gobel menegaskan bahwa suaranya ini murni untuk menjaga semangat para pekerja.
“Saya bersuara seperti ini bukan hanya untuk karyawan di Panasonic saja, tapi untuk seluruh pelaku industri di Tanah Air. Kita harus jaga semangat mereka agar tetap optimis dan produktif meski menghadapi tekanan global yang berat,” tutup Gobel.
Pada kesempatan itu, Menaker juga meresmikan Ebu Center. Yaitu pusat studi yang mendokumentasikan nilai-nilai perusahaan yang diajarkan Konosuke Matsushita dan Thayeb M Gobel. Matsushita adalah pendiri Panasonic dan Gobel adalah pendiri Gobel Group. Dua tokoh ini melakukan kerja sama dengan mendirikan Panasonic Gobel Group.










