Sila 3, proyek ini harus menyatukan, lewat hilirisasi di Maluku dan lapangan kerja untuk anak Maluku.
Sila 4, dibutuhkan ruang dialog setara antara pemerintah, akademisi, adat, gereja, masjid, dan anak muda.
Sila 5, keadilan sosial harus nyata dalam bentuk RS, sekolah vokasi maritim, beasiswa, jalan, listrik, dan kedaulatan pangan.
“Jangan jadikan Masela sebagai pagar yang memisahkan. Jadikan ia pintu. Pintu menuju Indonesia yang adil, dan Maluku yang berdikari atas lautnya sendiri,” ujarnya disambut tepuk tangan peserta.
Basyir menutup pidatonya dengan menyerukan agar anak muda Maluku tidak apatis. Spirit Bung Karno harus diterjemahkan dalam kerja-kerja kritis, berbasis data, dan semangat gotong royong.
“Dirgahayu Bung Karno. Hidup Pancasila. Hidup Anak Muda Maluku. Hidup Indonesia Raya,” tutupnya.
Kegiatan lomba pidato ini menjadi ruang bagi anak muda Maluku untuk menyuarakan gagasan kebangsaan dan isu lokal strategis dalam bingkai nilai-nilai kebangsaan yang diwariskan Sang Proklamator. (**)










