Di sisi lain, Maluku masih menghadapi sejumlah tantangan, antara lain keterbatasan konektivitas antarpulau, tingginya biaya logistik, serta ketimpangan akses terhadap layanan pendidikan dan kesehatan. Karena itu, pemanfaatan sains dan teknologi dinilai penting untuk menghadirkan solusi yang sesuai dengan karakteristik geografis dan kebutuhan masyarakat Maluku.
Lewerissa juga mendorong penguatan kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, lembaga penelitian, sektor swasta, dan masyarakat. Sinergi antarpemangku kepentingan tersebut diharapkan mampu menghasilkan inovasi yang aplikatif sekaligus mempercepat transformasi pembangunan daerah.
Selain pengembangan teknologi, ia menekankan pentingnya investasi pada sumber daya manusia, khususnya generasi muda. Penguatan literasi ilmiah, kompetensi digital, kemampuan berpikir kritis, dan kreativitas menjadi modal penting agar generasi muda Maluku mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman dan berperan dalam pembangunan.
“Pemerintah Provinsi Maluku berkomitmen untuk memajukan agenda pembangunan yang menjadikan sains, teknologi, dan inovasi sebagai penggerak utama transformasi daerah,” ujarnya.
Ia berharap ICAST 2026 tidak berhenti pada pertukaran gagasan dan publikasi ilmiah, tetapi juga menghasilkan kemitraan strategis, rekomendasi kebijakan, serta inisiatif konkret yang dapat diterapkan untuk mendukung pembangunan di tingkat daerah, nasional, maupun global.










