“Perempuan adalah menteri keuangan keluarga. Kalau pengelolaan keuangannya kurang baik, ke depan rumah tangga juga bisa menghadapi persoalan,” ujarnya saat menerima audiensi DPD Perempuan Indonesia Maju (PIM) di ruang kerjanya, Senin (5/10/26).
Menurutnya, literasi keuangan semakin penting di tengah maraknya tawaran investasi ilegal dan berbagai bentuk penipuan digital.
Modus kejahatan keuangan kini semakin beragam dan canggih, mulai dari pesan singkat hingga berbagai modus penipuan berbasis digital.
Karena itu, OJK membuka peluang kolaborasi dengan berbagai organisasi perempuan, termasuk PIM untuk menghadirkan edukasi mengenai pengelolaan keuangan, ciri-ciri investasi ilegal, hingga cara melindungi diri dari kejahatan keuangan digital.
“Kami siap memberikan pemahaman. Saya rasa ini bisa kita lakukan bersama,” katanya.
Tidak hanya literasi, OJK juga mendorong pemberdayaan perempuan pelaku usaha dan UMKM melalui akses yang lebih luas terhadap lembaga jasa keuangan.
Salah satunya dengan mempertemukan pelaku usaha perempuan dengan perbankan maupun perusahaan pembiayaan agar mereka memahami persyaratan dan mekanisme memperoleh pembiayaan.
Pelaku UMKM, kata dia, perlu memiliki pencatatan keuangan yang baik serta menjaga rekam jejak pembiayaan agar lebih mudah memperoleh kepercayaan dari lembaga keuangan.










