Selain ancaman terhadap lingkungan, Nita menyoroti dampak asap karhutla terhadap kesehatan masyarakat. Dalam rapat tersebut, disebutkan data paparan polusi akibat kebakaran yang mencapai lebih dari 50 ribu kasus.
Angka tersebut, menurutnya, perlu menjadi perhatian serius, terutama terkait potensi gangguan pernapasan pada anak-anak dan kelompok masyarakat rentan. Karena itu, strategi mitigasi harus mencakup langkah perlindungan kesehatan masyarakat, bukan semata-mata penanganan titik api.
“Penanganan karhutla harus dilakukan secara menyeluruh. Dampak asap terhadap kesehatan masyarakat juga harus menjadi perhatian, terutama bagi kelompok rentan,” demikian penekanan terhadap pentingnya pendekatan lintas sektor dalam mitigasi kebakaran.
Nita juga mengingatkan potensi berlanjutnya musim kemarau berdasarkan paparan prakiraan cuaca dalam rapat tersebut. Jika kondisi itu berlangsung lebih lama dari perkiraan, risiko karhutla dan kekeringan dapat meningkat, sekaligus mengganggu produksi pertanian serta distribusi bahan pangan.
Dampak tersebut berpotensi menambah tekanan terhadap daya beli masyarakat. Dalam rapat itu, harga cabai rawit dilaporkan telah mencapai sekitar Rp180 ribu hingga Rp200 ribu per kilogram. Tingginya harga tersebut disebut berkaitan dengan ketergantungan pasokan dari luar daerah.










