“Sebagai contoh, orang Jawa untuk menyebut anak yang bertingkah banyak sebagai “anteng kaya kitiran”, tenang seperti baling-baling. Dalam konteks Mas Bahlil Ganteng di lagu itu saya tidak merasakan sarkastis bahkan sebagai sanepan atau sindiran halus sekalipun,” sambung dia.

Golkar Nilai Bukan Bentuk Sindiran
Ia menilai kata ‘ganteng’ yang disematkan kepada Bahlil bisa dimaknai sebagai bentuk apresiasi yang benar adanya.
“Bagi saya, ganteng yang disematkan untuk Pak Bahlil bisa benar seperti adanya. Kawan saya S-2 pernah mengatakan ke saya bahwa orang intelek itu keren, sama dengan orang betawi mengatakan cakep kepada orang yang berbuat baik atau hal-hal yang baik. Bagi saya kerja-kerja Pak Bahlil selama ini bisa diwakilkan dengan kata keren, cakep, bagus atau semisalnya,” ujar dia.
Sarmuji kemudian menceritakan pengalaman pribadinya terkait cara memaknai kata “ganteng”. Ia menyebut memiliki tiga anak dengan warna kulit dan karakter wajah yang berbeda, namun tetap sama-sama ‘ganteng’ baginya.“Bahkan untuk ukuran fisik sekalipun Pak Bahlil juga ganteng, sama gantengnya dengan yang lain. Secara kebetulan saya ditakdirkan memiliki tiga anak yang memiliki gradasi kulit yang berbeda.
Anak pertama berkulit kuning langsat cenderung putih dengan wajah kearab-araban, anak kedua berkulit coklat terang berwajah oriental dan ketiga berkulit coklat gelap berwajah jawa. Saya menyebutnya ketiganya dengan kata yang sama, ganteng,” katanya. Ia menegaskan penyebutan ganteng tidak bisa selalu dikaitkan dengan body shaming atau sarkasme. “Ketika saya bilang ganteng untuk anak ketiga saya, saya tidak sedang melakukan body shaming. Saya hanya sedang menyatakan ganteng versi yang berbeda dengan anak kedua dan pertama. Ketiganya sama-sama ganteng,” ungkap Sarmuji.










