Selain itu, Irawati mengingatkan pentingnya memperhatikan kondisi pasar global agar produk alat kesehatan dalam negeri tetap kompetitif di tengah persaingan internasional.
Ia juga menyinggung kemudahan sertifikasi halal bagi alat kesehatan impor asal Amerika Serikat yang dinilai perlu menjadi perhatian industri nasional setelah adanya kesepakatan kerja sama dengan Indonesia.
Pada sisi lain, industri kesehatan juga didorong memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) di berbagai lini operasional, mulai dari perencanaan, produksi, hingga distribusi.
Menurut Irawati, pemanfaatan AI dapat membantu meningkatkan efisiensi operasional sehingga biaya produksi tetap terkendali. Teknologi tersebut juga dinilai berpotensi mendukung inovasi layanan kesehatan, termasuk analisis data medis dan pengembangan terapi yang lebih tepat sasaran.
Meski demikian, ia mengakui tantangan terbesar saat ini masih berkaitan dengan kesiapan sumber daya manusia (SDM), terutama dalam hal kompetensi dan penerapan teknologi AI.
Di tengah implementasi sertifikasi halal dan transformasi digital, industri kesehatan nasional juga tengah menghadapi tekanan besar atau “perfect storm”. Kondisi tersebut dipicu gangguan rantai pasok global, kenaikan harga bahan baku dan kemasan, pelemahan nilai tukar rupiah, regulasi ketat, hingga tuntutan reformasi industri.










