Arikamedia.id, JAKARTA – Dari Istana Merdeka, Jakarta, Presiden Prabowo Subianto membacakan kalimat deklarasi yang sudah dinantikan selama hampir tiga dekade:
“Dengan mengucap bismillahirrahmanirrahim, pada siang hari ini, hari Kamis, 16 Juli 2026, dengan rahmat Tuhan Yang Maha Esa, saya Prabowo Subianto, Presiden Republik Indonesia, menyatakan groundbreaking Proyek Strategis Nasional Liquefied Natural Gas Abadi Masela secara resmi dimulai.”
Di Kepulauan Tanimbar, Maluku, ribuan kilometer dari tempat Presiden berdiri, layar video raksasa menyiarkan wajah kepala negara kepada mereka yang sudah hadir di lokasi proyek Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, para pejabat, dan warga Tanimbar yang selama bertahun-tahun hidup di atas cadangan gas yang belum pernah benar-benar menyentuh kehidupan mereka, dilansir akun Desas Desus Cerdas.
Prabowo meminta maaf karena tidak bisa hadir langsung. Tapi pesannya jelas: proyek ini harus segera jalan.
Blok Masela bukan proyek baru. Kontrak wilayah kerja pertama kali ditandatangani pada 16 November 1998, ketika Indonesia masih dalam pusaran krisis ekonomi.
Sejak saat itu, proyek ini sudah melewati enam kepresidenan — dari Habibie hingga Jokowi — dengan perdebatan yang panjang dan melelahkan soal satu pertanyaan fundamental: apakah kilang pengolahannya dibangun di tengah laut (floating) atau di darat (onshore)?










