Sr. Herdiana Randut, SSpS Member of Woke Asia Feminist, Puandemik Indonesia dan Ketua Puan Floresta Bicara
SAYA mengutip Soe Hok Gie yang berkata begini, “Perempuan akan selalu di bawah laki-laki kalau yang diurus hanya baju dan kecantikan.” Siapa pun akan mengakui pernyataan ini benar adanya. Apalagi jika dikaitkan dengan perkembangan teknologi saat ini yang melampaui kecepatan nalar manusia untuk mengejarnya.
Saya sendiri memaknai pernyataan Soe Hok Gie ini secara lain. Yang hendak dikatakannya ialah agar perempuan Indonesia jangan lagi terkurung dalam kegelapan intelektual. Yang dulunya tidak diperkenankan sekolah, hanya membersihkan rumah, memasak, menjahit, mengurus anak, dan merawat diri, kini dapat menikmati akses pendidikan.
Tugas dan tanggung jawab seorang perempuan bukan hanya pelengkap rumah tangga. Namun harus bisa membicarakan arah kemajuan bangsa, sistem atau regulasi yang berlaku pada suatu bangsa, dan memutuskan kebijakan bersama dalam masyarakat.
Maka ketika berbicara tentang politik, tidak hanya kalangan politisi, pemerintah atau birokrat laki-laki yang bersuara kencang. Tetapi juga perempuan bisa duduk di sana, bahkan terlibat aktif. Sejatinya, perempuan memiliki potensi yang tidak kalah jauh dari laki-laki. Ia mempunyai kemampuan yang setara dengan laki-laki.