Kegiatan tersebut bertujuan meningkatkan kapasitas dan kemampuan dalam melakukan pencegahan maupun penanganan kasus kekerasan secara optimal.
Menurutnya, perhatian terhadap perempuan dan anak merupakan bagian penting dalam membangun kampus yang inklusif. Hal tersebut juga diwujudkan melalui keberadaan Satuan Tugas (Satgas) Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di lingkungan perguruan tinggi.
Ia menjelaskan, persoalan kekerasan di lingkungan kampus tidak hanya berkaitan dengan perempuan, tetapi sebagian besar korbannya merupakan perempuan. Karena itu, upaya pencegahan dan penanganan kekerasan menjadi salah satu perhatian penting yang perlu terus diperkuat.
Pelatihan tersebut bertujuan meningkatkan kapasitas sumber daya manusia, sehingga upaya pencegahan dan penanganan kasus kekerasan di lingkungan kampus dapat dilakukan secara lebih optimal.
Lebih lanjut, ia berharap kerja sama dan kolaborasi dengan berbagai pihak dapat terus dikembangkan. Meskipun sejumlah program kemungkinan belum dapat direalisasikan pada akhir tahun ini, pihak kampus membuka peluang untuk menjalin kerja sama pada tahun mendatang.
Ia juga menyampaikan bahwa kampus sangat terbuka terhadap berbagai inisiatif dan program pemberdayaan yang datang dari organisasi maupun lembaga lain, termasuk program dari IAKN dan PIM.










