Mahasiswa harus memiliki kompetensi dan kesiapan kerja, industri memperoleh lulusan sesuai kebutuhan, pemerintah mendapatkan dukungan melalui riset dan teknologi terapan, sementara masyarakat merasakan manfaat kehadiran kampus.
“Yang ingin kita bangun adalah sinergi. Bukan siapa membantu siapa, tetapi bagaimana kita bekerja bersama dan dampak apa yang akan kita hadirkan bersama,” tegasnya.
Haurissa juga menargetkan lulusan Polnam mampu bersaing tidak hanya di Maluku, tetapi hingga tingkat nasional dan internasional. Untuk itu, pembelajaran berbasis industri, penguatan kompetensi dan pengalaman mahasiswa di dunia kerja terus didorong.
Memasuki usia ke-39, Polnam ingin memastikan kampus tidak hanya menghasilkan lulusan, tetapi juga menghadirkan pengetahuan, keterampilan dan solusi yang memberi manfaat nyata bagi Maluku. (AM-18)










