Di tengah dinamika gerakan mahasiswa yang sering kehilangan arah perjuangan sosialnya, kemunculan Basyir Tuhepaly Putra Saparua sebagai calon Ketua Umum Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Kota Ambon menghadirkan harapan baru.
Kader asal Saparua, Kabupaten Maluku Tengah (Malteng) itu tumbuh dari ruang-ruang yang tidak biasa, ruang yang membentuk keteguhan, kedekatan dengan realitas masyarakat, dan semangat untuk menjadikan organisasi bukan sekadar simbol, tetapi alat perubahan sosial.
Basyir memahami bahwa organisasi kemahasiswaan hari ini menghadapi tantangan besar. Di satu sisi, mahasiswa dituntut tetap kritis terhadap kebijakan publik dan persoalan masyarakat.
Namun di sisi lain, organisasi mahasiswa juga harus mampu menawarkan solusi konkret atas berbagai persoalan sosial.
Karena itu, melalui pencalonannya di Musyawarah Cabang IMM Kota Ambon, Basyir membawa gagasan “IMM Ambon Biking Bae Ambon” dan “Baku Bantu Kasih Bae Ambon” sebagai arah gerakan yang lebih membumi dan dekat dengan kebutuhan masyarakat.
Bagi Basyir, lembaga kemahasiswaan dan kepemudaan seharusnya tidak hanya menjadi ruang diskusi tanpa tindakan.
Organisasi harus memiliki tiga karakter utama. Pertama, menjadi mitra kritis yang mampu menjaga idealisme dan fungsi kontrol sosial. Kedua, menjadi mitra solutif yang mampu menghadirkan gagasan maupun aksi nyata di tengah masyarakat. Ketiga, menjadi mitra kolaboratif yang membuka ruang kerja sama lintas kelompok demi kemajuan bersama.










