Dikutip dari TribunTrends.com, Ia menyebut ribuan peternak sebelumnya menggelar demonstrasi untuk menyampaikan persoalan yang mereka hadapi. Amran mempertanyakan bagaimana produsen dan konsumen sama-sama menyuarakan keluhan pada waktu yang berdekatan.
“Jadi yang demo adalah produsen, konsumen juga demo. Dua-dua demo. Terus di mana kita? Inilah pemerintah,” kata Amran. Menurut dia, kondisi tersebut perlu menjadi perhatian serius karena persoalan harga bukan sekadar berkaitan dengan angka inflasi, melainkan juga keberlangsungan usaha peternak dan keterjangkauan pangan bagi masyarakat.
Amran menyebut harga ayam dan telur di tingkat produsen mengalami tekanan. Dalam rapat itu, ia juga menyinggung harga yang disebutnya berada di kisaran Rp20.000 untuk komoditas ayam dan telur, meski konteks angka tersebut dalam transkrip tidak sepenuhnya jelas.
Ia menilai peran perantara atau middleman perlu dievaluasi agar pembentukan harga tidak merugikan peternak maupun konsumen. “Yang middle man ini harus diberesin selama tidak diberesin Pak, ini kerja kita terus,” ujarnya.
Amran Duga Ada Mafia yang Memainkan Harga Pangan
Amran menduga anomali harga tersebut berkaitan dengan praktik permainan harga oleh sejumlah pelaku usaha. Ia mengatakan pemerintah telah berupaya menjaga pasokan dan mengendalikan inflasi, tetapi hasilnya bisa tidak maksimal apabila terdapat pihak yang mengambil keuntungan melalui praktik perdagangan yang tidak sehat.










