BeritaDaerahEkonomiOpiniUtama

Pembungkaman Konsep Kesejahteraan Lokal

7
×

Pembungkaman Konsep Kesejahteraan Lokal

Sebarkan artikel ini
Menejer Program Dan Pemberdayaan Yayasan Buminusa, ‎Yatrsib Akbar Sowakil S.Pi, M.Si,

‎Arikamedia.id – Menejer Program Dan Pemberdayaan Yayasan Buminusa, ‎Yatrsib Akbar Sowakil S.Pi, M.Si menjelaskan, standar kesejahteraan nelayan yang dirumuskan negara sering kali keliru karena mengabaikan pola ekonomi subsisten-timbal balik (reciprocity) dalam masyarakat Maluku.

“Di Maluku dikenal budaya berbagi hasil tangkap (baku bagi) yang menjaga jaring pengaman sosial komunitas tetap hidup,” tulisnya.

Dikatakan, nelayan tradisional menganggap dirinya sejahtera jika lautnya bersih, wilayah tangkapnya aman, dan relasi sosial antarpenduduk terjaga, meskipun mereka tidak memiliki akumulasi kapital dalam bentuk tabungan bank.

Menurutnya, ketika negara memaksakan indikator kemajuan formal (industrialisasi, mekanisasi, komersialisasi penuh), nelayan dipaksa beralih menjadi buruh upahan industri perikanan.

“Akibatnya, ikatan komunal runtuh, ketahanan pangan lokal yang berbasis kemandirian pangan laut hilang, dan nelayan terjebak ke dalam kemiskinan struktural baru karena posisi tawar mereka yang sangat lemah di hadapan pasar global,” ujarnya.

Baca Juga  SMSI dan ABPEDNAS Jajaki Kolaborasi Nasional untuk Penguatan Desa dan Publikasi Program Strategis

Merebut Kembali Kedaulatan Laut Maluku

Tambahnya, realitas kemiskinan dan peminggiran masyarakat maritim di Maluku bukanlah sebuah keniscayaan takdir, melainkan hasil dari desain politik perikanan yang salah arah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita

INDOSAT Ooredoo Hutchison (Indosat atau IOH), Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia (Kemnaker RI), dan Wadhwani Foundation menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) tentang Kolaborasi Penguatan Ekosistem Ketenagakerjaan Nasional…