Secara historis, partai oposisi di Indonesia sering megap-megap seperti Gerindra pra-2019 yang suaranya turun sebelum merapat. Demokrat, yang pernah meraih 20% era SBY tetapi kini 7%, berisiko erosi basis jika tidak punya “kue” bagi kader.
Tetapi kerugiannya massif, terutama jangka pendek. Pertama, hilang akses kekuasaan di mana Demokrat kehilangan kursi menteri (AHY mundur), anggaran partai, dan pengaruh di DPR—koalisi Prabowo dominan, membuat oposisi seperti “bertarung sendirian.”
Kedua, polarisasi internal. Basis Demokrat sekuler-liberal sulit bersatu dengan PKS yang Islamis atau PDIP yang nasionalis, juga potensi pecah seperti 2023 saat ditinggal Anies.
Ketiga, risiko elektoral. Di Pilpres 2029, oposisi berarti melawan mesin koalisi besar, plus stigma “penghianat” dari Prabowo yang bisa menghancurkan suara Demokrat. Secara keseluruhan, kerugian ini bisa membuat Demokrat “mati suri” seperti era pasca-SBY, di mana bergabung koalisi justru menguntungkan paling tidak untuk bertahan.
AHY Pasca-Demokrat Oposisi
AHY, sebagai putra SBY dan menteri saat ini, nasibnya paling terdampak. Jika keluar, ia bisa jadi “pemimpin oposisi baru” yang mirip ayahnya saat mundur dari Megawati dan terpilih menjadi Presiden. Keuntungannya, jelas membangun “legacy” independen, target capres/cawapres 2029 dengan narasi “generasi muda reformis,” plus dukungan basis militer (latar belakang TNI).










