“Jurnalis harus memastikan korban tidak mengalami luka karena pemberitaan, sebab itu, empati dan etika sangat penting dalam setiap liputan,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan agar media tidak membuka identitas korban, tidak menggunakan bahasa yang menyalahkan, dan tidak membuat judul yang sensasional.
Manajer Tim Project Multatuli, Nurdiyansah Dalidjo, memandu sesi refleksi bersama peserta, ia menekankan bahwa jurnalisme seharusnya berpihak pada kelompok rentan dan membantu menyuarakan mereka yang sering tidak didengar.
Melalui pelatihan ini, diharapkan jurnalis dan pers mahasiswa di Maluku bisa menghasilkan berita yang lebih adil, lebih manusiawi, dan tetap memegang teguh etika jurnalistik. (AM-18).










