Slamet Rijadi mengira daerah itu sudah bebas hingga dia berani keluar dari kubah kendaraan lapis baja itu. Setelah keluar dari panser, Slamet Rijadi kena hantam peluru sniper RMS. Klees pun menjadi ambulans bagi Slamet Rijadi yang tidak selamat.
TNI memang beruntung karena memiliki perwira berdarah Ambon. Tidak hanya Kapten Joost Muskita, tapi juga Kapten Leo Lopulisa. Berdasarkan catatan Ben van Kaam dalam The South Moluccans: Background to the Hijackings yang dikutip Bartels, pada akhir 1950 sebuah acara Natal bersama diatur Leo Lopulisa.
Natal bersama itu melibatkan anggota RMS yang ditawan TNI dan anggota-anggota TNI dari berbagai golongan termasuk Islam dari Aceh. Orang Aceh, yang dulu diperangi KNIL asal Ambon, pada Desember 1950 itu menjadi golongan pertama yang memberi hadiah kepada tawanan RMS itu.
Setelah akhir 1950, RMS terusir dari Ambon dan memilih bergerilya di Seram hingga awal 1960-an di mana Dr. Soumokil memimpin perang gerilyanya. Di masa Presiden Sukarno, selalu ada pengampunan untuk para pemberontak. Bekas RMS yang menyerah tidak hanya diperlakukan dengan baik, tapi juga diaktifkan sebagai anggota TNI. * (Berbagai Sumber)










