BeritaDaerahTNI dan POLRIUtama

Slamet Riyadi Jago Tempur dari Solo Tewas dalam Penumpasan RMS

4
×

Slamet Riyadi Jago Tempur dari Solo Tewas dalam Penumpasan RMS

Sebarkan artikel ini
Slamet Riyadi (Arsip Nasional)

“Bagaimana dengan saya?” tanya Kapten Joost Muskita yang orang Ambon tapi kelahiran Magelang.

Seperti kisahkan oleh Bartels, Slamet Rijadi kemudian minta maaf karena sedang sulit mengendalikan amarahnya. Setelah kemarahan yang tak terkendali itu mereda, Slamet Rijadi tak hanya mendengar masukan Joost Muskita, tapi juga menjadi insyaf akan kualitas militer dan keberanian orang Ambon.

Patung Slamet Riyadi di Surakarta

Menurut Benjamin Bouman dalam Van Driekleur tot Rood Wit: De Indonesische Officieren uit het KNIL: 1900–1950, Joost Muskita yang pernah jadi komandan kompi Barisan Tjakra Madura adalah perwira operasi TNI dalam operasi penumpasan RMS. Joost Muskita bekerja di bawah Slamet Rijadi.

Joost Muskita berada pada posisi tidak mudah ketika menjadi perwira operasi TNI dalam menghadapi RMS. Dia harus melawan saudara sesukunya. Tidak banyak yang tahu bahwa kiprah Joost Muskita melawan RMS ditentang ayahnya yang mantan Sersan KNIL. Koran Niewsbladvan het Noorden, 6 Januari 1978, menyebut ayahnya menolak untuk berbicara dengannya selama sepuluh tahun. Untungnya, menurut istri Joost Muskita, Henriette Mans Muskita-Latuharhary, ibunya masih mau berpihak pada anaknya itu.

Baca Juga  Hari Pers Nasional, Ibas: Pers Berkualitas, Demokrasi Berkualitas, Indonesia Berintegritas

Slamet Rijadi dan pasukannya memang berhasil mencapai kota Ambon, yang sempat jadi pusat RMS. Dengan sebuah panser yang dikendarai seorang keturunan bule Depok, Kapten Hermanus Lodewicus Gerardus Klees, Slamet Rijadi tiba di muka Benteng Nieuw Victoria, kota Ambon, pada 4 November 1950.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *