Semangat “potong di kuku rasa di daging” harus terus hidup sebagai identitas orang Maluku. “Maluku tidak bisa dibangun dengan ego masing-masing. Perbedaan justru menjadi alasan untuk bersatu, bukan terpecah,” tegasnya.
Selain itu, ia juga menyoroti tantangan nyata yang masih dihadapi Maluku, seperti persoalan kemiskinan dan ketimpangan pembangunan.
Dalam konteks ini, pemuda diharapkan hadir sebagai agen perubahan yang mampu mendorong inovasi dan pembangunan berkelanjutan. “Kita hidup dalam satu ruang yang sama. Maka penting menciptakan kehidupan yang damai, aman, dan harmonis agar pembangunan berjalan baik,” tambahnya.
Ia pun mengajak seluruh elemen, baik pemerintah daerah maupun masyarakat, untuk memperkuat kolaborasi.
Dengan kekayaan sumber daya alam dan potensi sumber daya manusia yang dimiliki, Maluku diyakini mampu berkembang lebih maju jika dibangun dengan semangat kebersamaan. “Maluku harus dibangun bersama. Bukan hanya oleh pemerintah, tetapi oleh semua pihak dengan satu visi yang sama,” pungkasnya.
Kegiatan halal bihalal ini tidak sekadar menjadi ajang silaturahmi, tetapi juga ruang refleksi bagi pemuda Maluku untuk terus menjaga nilai, merawat nalar, dan memperkuat persatuan demi “Maluku pung bae.” (AM-18)














