Saya lebih cenderung untuk membangun kerjasama dengan berbagai kalangan media, stakeholders, masyarakat adat, aktivis lingkungan, agar ada perubahan kebijakan yang tidak hanya menguntungkan penguasa.
Saya mengajak agar para jurnalis dan pemilik media lebih memberikan perhatian dan terlibat dengan persoalan-persoalan yang dihadapi oleh masyarakat adat maupun pembela lingkungan.
Jurnalis mesti terlibat dengan aktivis lingkungan agar bisa merasakan tantangan dan aspirasi-aspirasi di dalamnya.
Maluku merupakan salah satu wilayah yang kaya dengan keberagaman alam termasuk masyarakat adat didalamnya, sayangnya aktivis lingkungan terkadang termarginalkan oleh media, publik bahkan negara. Apalagi pembela lingkungan berjuang untuk menyelamatkan masyarakat adat agar tanah-tanah mereka tidak tergerus oleh perusahaan. Butuh penciptaan agar media hadir untuk memberikan ruang aman bagi pembela lingkungan agar bersuara di media itu sendiri.
Langkah ini penting bagi dunia pers Indonesia, di mana jurnalisme lingkungan yang kredibel sangat dibutuhkan untuk melawan disinformasi dan mendorong solusi berkelanjutan demi kelestarian bumi di masa depan.
Konsentrasi kepemilikan media dan keterlibatannya dalam politik telah menciptakan lingkungan media yang kurang sehat dan kurang demokratis. Untuk mengatasi masalah ini, diperlukan upaya yang lebih serius untuk mengatur industri media dan memastikan bahwa media berfungsi sebagai pengawas kekuasaan dan penyedia informasi yang objektif bagi masyarakat.










