PERDANA Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, meluncurkan usulan strategis untuk membangun jalur pipa minyak dan gas yang membentang dari Semenanjung Arab menuju pelabuhan-pelabuhan Israel di Laut Mediterania.
Inisiatif ini disampaikan pada 19 Maret 2026 sebagai solusi permanen untuk menghindari ketergantungan pada Selat Hormuz dan titik sempit (chokepoint) lainnya di kawasan Teluk yang kini berada di bawah ancaman militer Iran.
Usulan ini muncul menyusul serangan udara mandiri Israel terhadap ladang gas South Pars milik Iran, sebuah aksi yang memperuncing eskalasi konflik di Timur Tengah.
Netanyahu menegaskan bahwa rute alternatif ini akan mengubah peta energi global secara drastis setelah perang berakhir. Selain mengamankan pasokan energi, ia mengklaim bahwa kekuatan militer Iran, termasuk kemampuan pengayaan uranium dan produksi rudal, telah hancur signifikan setelah 20 hari pertempuran.
Namun, pernyataan tersebut dibantah oleh Direktur Jenderal IAEA, Rafael Grossi, yang menyatakan bahwa kapasitas industri nuklir Iran sebagian besar masih bertahan di fasilitas bawah tanah.
Strategi Israel ke depan tidak hanya terbatas pada serangan udara, tetapi juga mencakup penghancuran total industri pendukung militer Iran dan kemungkinan keterlibatan komponen operasi darat.














