Pertumbuhan ekonomi Maluku pada triwulan III 2025 mencapai 4,31%, meningkat dari 3,39% di triwulan sebelumnya. Ini *menunjukkan peningkatan, tapi tidak drastis*. Peningkatan ini didorong oleh sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan yang tumbuh 7,94%, serta Perdagangan Besar dan Eceran yang tumbuh 5,23%.
Faktor pendukungnya antara lain produksi ikan tangkap yang meningkat karena gelombang laut yang relatif rendah, konsumsi rumah tangga yang meningkat karena perayaan HUT Kota Ambon dan Gereja Protestan Maluku seraya hari besar keagamaan nasional (HBKN) , juga ekspor luar negeri yang meningkat karena permintaan ikan, udang, rempah-rempah, dan perhiasan/permata.
Tetapi di sisi lain Stabilitas ekonomi Maluku masih menjadi tantangan besar. Inflasi pada Desember 2025 mencapai 0,81% (m-to-m), tertinggi dalam enam bulan terakhir, dengan inflasi year-on-year sebesar 3,58% dan IHK 110,82.
Harga pangan fluktuatif, kebijakan moneter kurang efektif, dan pertumbuhan ekonomi lambat menjadi faktor utamanya. Pemerintah Maluku perlu meningkatkan produksi pangan lokal, efisiensi distribusi, dan memperkuat kebijakan moneter untuk mengatasi masalah ini.
Komoditas yang dominan memberikan andil inflasi m-to-m pada Desember 2025, seperti bawang merah, ikan selar/kawalinya, dan tarif angkutan udara, menunjukkan bahwa Gubernur Maluku tidak melakukan pengawasan harga yang efektif.










