Kesadaran kolektif masyarakat kampung menjadi fondasi penting bagi pengawasan partisipatif yang efektif dan kontekstual.
Refleksi penting lainnya dari Mangente Kampung di Negeri Kaitetu adalah penguatan demokrasi yang inklusif, khususnya keterlibatan perempuan.
Perempuan kampung sering kali menjadi penjaga nilai dalam keluarga dan komunitas, namun masih menghadapi keterbatasan ruang dalam politik formal.
Padahal, pengalaman perempuan memberikan perspektif penting dalam menjaga keadilan, integritas, dan keberlanjutan demokrasi.
Melalui dialog Mangente Kampung, terlihat antusiasme perempuan dan kelompok masyarakat lainnya untuk terlibat aktif, bertanya, serta menyampaikan pandangan terkait Pemilu dan Pilkada.
Ini menjadi penanda bahwa ketika ruang demokrasi dibuka secara inklusif dan membumi, masyarakat kampung siap menjadi subjek aktif dalam menjaga kualitas demokrasi.
Mangente Kampung tidak dimaksudkan sebagai forum seremonial. Ia dirancang sebagai ruang bacarita yang reflektif, kritis, dan setara.
Di ruang ini, warga dapat menyampaikan pandangan, kegelisahan, bahkan kritik terhadap praktik demokrasi yang mereka alami secara langsung. Literasi politik menjadi lebih bermakna karena tumbuh dari pengalaman dan realitas warga sendiri.










