”Tantangan seperti politik uang, politisasi SARA, serta apatisme pemilih membutuhkan penyadaran dan dialog yang terus-menerus. Aturan saja tidak cukup. Penyadaran itu harus dimulai jauh sebelum pemilu berlangsung,” jelasnya.
Seiring berjalannya waktu, MANGENTE mulai bergerak ke berbagai kampus di Kota Ambon. Salah satu kunjungan yang telah dilakukan adalah di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Pattimura Ambon, yang mendapatkan respons positif dari mahasiswa.
Astuti menjelaskan, selain itu, MANGENTE juga hadir di UIN Ambon dalam momentum peringatan 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (16 HAKTP), menghadirkan diskusi kepemiluan sekaligus membangun kesadaran tentang isu kekerasan berbasis gender yang masih relevan dalam konteks demokrasi.
Diungkapkannya, banyak mahasiswa yang terlibat dalam kedua kegiatan tersebut menunjukkan ketertarikan yang besar. Ada yang kemudian aktif sebagai relawan pengawasan, ada pula yang menjadi penyebar informasi sehat di ruang digital.
Menurut Astuti, hal ini menunjukkan bahwa MANGENTE bukan sekadar kegiatan rutin, tetapi sebuah proses pembentukan warga muda yang kritis dan berdaya.
”Harapan agar MANGENTE terus diperluas. Ia ingin program ini menjangkau lebih banyak kampus, bahkan sekolah-sekolah. Demokrasi tumbuh dari percakapan kecil yang dilakukan terus-menerus,” katanya.










