Untuk mendukung itu pintanya kita perkuat dengan lembaga adat karena ada nilai-nilai kearifan lokal kita yang bisa memperkuat kita soal Pela Gandong, narasi-narasi bahasa basudara dalam wujud harmoni sosial.
Kemudian mengatasi ketimpangan supaya masyarakat di kota Ambon tidak timbul kecemburuan sebut Wattimena, kita bangun inklusi disitu. Inklusifitas dan toleransi merupakan daya perekat kohesitas masyarakat supaya kita mengehargai perbedaan sebagai anugerah Tuhan.
“Perbedaan bukan untuk memcah bela tetapi menjadi kekuatan untuk mempersatukan kita, dalam bingkai hidup orang basudara dalam menghargai perbedaan. Ini akan menjadi kebijakan kohesitas harmoni relasi sosial untuk Ambon,” tegasnya.

Sementara Calon Wali Kota Ambon, Tady Salampessy, mendapat pertanyaan soal Ketertiban dan harmonisasi sosial. Tingginya tingkat kepadatan penduduk dan keberagaman masyarakat di kota Ambon, ternyata belum selaras dengan pembangunan kota Ambon yang ramah, dan memenuhi semua kelompok sosial terutama kelompok rentan sosial seperti masyarakat miskin, perempuan, anak dan masyarakat berkebutuhan khusus. Apa program strategis pembangunan yang dilakukan dalam mendukung inklusi sosial di Ambon yang menyentuh semua warga khususnya kelompok rentan sosial dan difabel.










