BeritaDaerahNasionalTNI dan POLRIUtama

Berkaca dari Tual, Mengapa Kekerasan Aparat Masih Berulang?

3
×

Berkaca dari Tual, Mengapa Kekerasan Aparat Masih Berulang?

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi Helm Polisi - web

Korban kemudian dilarikan ke RSUD Karel Sadsuitubun Langgur untuk mendapatkan perawatan medis. Namun pada pukul 13.00 WIT, korban dinyatakan meninggal dunia. Kakaknya, NK, mengalami patah tulang.

Pasca kejadian, keluarga korban mendatangi Mako Brimob Tual untuk menuntut keadilan. Pihak kepolisian merespons dengan langsung mengamankan dan menahan Bripda MS pada hari yang sama.ninggal dunia. Kakaknya, NK, mengalami patah tulang.

Peristiwa itu semakin menambah daftar panjang tindak kekerasan yang berujung hilangnya nyawa seseorang oleh anggota Kepolisian. Sebelumnya, ada Affan Kurniawan yang merupakan pengemudi ojek online tewas terlindas kendaraan statis Brimob di tengah rusuh Agustus 2025.

Ada juga Gamma Rizkynata Oktafandy (17). Siswa kelas XI Teknik Mesin tersebut diduga ditembak oleh polisi di kawasan Jalan Candi Penataran, Kalipancur, Kota Semarang, Minggu (24/11/2024) dini hari.

Baca Juga  Perayaan 20 Tahun Sammy Simorangkir dalam 20SSS

Selepas kejadian, muncul kecurigaan bahwa polisi merekayasa kronologi kasus tewasnya Gamma.

Ada pula peristiwa Kanjuruhan. Pada 1 Oktober 2022, aparat kepolisian menembakkan gas air mata ke tribun Stadion Kanjuruhan, Malang, seusai pertandingan Liga Indonesia antara Arema FC melawan Persebaya Surabaya.

135 orang, termasuk 32 anak-anak, 43 perempuan, dan 2 polisi, meninggal dunia dalam tragedi tersebut. Setelahnya, seiring masifnya desakan publik, baru proses pidana mengenai peristiwa tersebut dilangsungkan. 6 orang ditetapkan sebagai tersangka, termasuk 3 orang anggota polisi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *