Penyesuaian operasional ekspor-impor Untuk eksportir global yang produknya terkena larangan, kebijakan ini berarti kebutuhan untuk: Memenuhi standar kesehatan yang lebih ketat, termasuk heat treatment yang efektif untuk virus hewan tertentu. Melengkapi sertifikasi kesehatan resmi dari otoritas yang diakui.
Memahami dinamika peninjauan daftar negara SFDA, yang bersifat berkala dan responsif terhadap situasi global. Larangan parsial juga menunjukkan bahwa selain komoditas secara umum, wilayah atau provinsi tertentu di negara lain dapat dikenai pembatasan, yang berarti eksportir perlu memperhatikan data epidemiologis terperinci dari wilayah asal produknya.
Respons pasar global Sejumlah negara yang sebelumnya sempat dikenai larangan serupa telah menunjukkan respons dengan menyesuaikan rantai pasok, memperbaiki standar kesehatan hewan lokal, atau mengeksplorasi pasar alternatif.
Contohnya, laporan pada pertengahan 2025 menunjukkan Arab Saudi dan Chili mencabut larangan impor unggas dari Brasil setelah otoritas kesehatan setempat menyatakan beberapa wilayah aman dari penyakit unggas seperti Newcastle.
Langkah Saudi Arabia memperluas larangan impor unggas dan telur dari 40 negara serta pembatasan di wilayah negara lain merupakan kebijakan protektif yang didasari pertimbangan kesehatan masyarakat dan keamanan pangan. Kebijakan tersebut juga menggambarkan dinamika regulasi internasional dalam merespons wabah penyakit hewan yang berpotensi memengaruhi pasokan pangan global. (**)










