Arikamedia.id, AMBON – Tanpa keberanian untuk melakukan terobosan, ketimpangan akan terus melebar.
Normalisasi kemiskinan juga berbahaya secara psikologis.
Ketika masyarakat mulai menerima kondisi sulit sebagai takdir yang tidak bisa diubah, maka semangat untuk berjuang perlahan memudar.
Hal ini disampaikan Basyir Tuhepaly Jumat (03/04/26) membuka ruang diskusi.
Tuhepaly mengatakan, generasi muda kehilangan harapan, dan potensi daerah pun terancam tidak berkembang.
“Dalam konteks ini, kemiskinan tidak hanya menjadi persoalan ekonomi, tetapi juga krisis mentalitas kolektif,” ujarnya.
Oleh karena itu, diungkapkan, kritik yang disampaikan harus dilihat sebagai momentum evaluasi.
Menurutnya, Pemerintah daerah perlu membuka ruang dialog yang konstruktif dengan berbagai elemen masyarakat, termasuk organisasi kepemudaan.
“Transparansi, akuntabilitas, serta keberpihakan pada kepentingan rakyat harus menjadi fondasi utama dalam merumuskan kebijakan ke depan,” tukasnya.
Kata Basyir pada akhirnya, kemiskinan di Maluku tidak boleh dinormalisasi.
Kemiskinan tambahnya, harus dilawan dengan kebijakan yang progresif, partisipasi masyarakat yang aktif, serta pengawasan publik yang kuat.











