Melansir BBC Indonesia, tapi sampai sekarang kami tidak punya sekolah dan tidak punya pelayanan kesehatan. “Orang tua kami banyak yang meninggal di jalan saat dipikul untuk berobat, lalu dikubur di tengah jalan,” katanya.
Menurut Yafet Teet, kondisi ini ironis karena Kampung Omon berada di wilayah Kabupaten Jayapura. Ketika banyak kampung lain telah menikmati fasilitas jalan, rumah permanen, dan kendaraan, warga Omon masih bertahan dengan berbagai keterbatasan. “Kami hanya makan sagu. Makanan dari kota kami belum pernah merasakan. Beras, minyak, semua kami hanya dengar namanya saja,” ucapnya.
Yafet juga mempertanyakan keterlambatan dan ketidakjelasan bantuan pemerintah. Ia mengaku hanya mendengar adanya program dan anggaran, tetapi belum merasakan dampaknya secara langsung. “Bantuan pemerintah kami tidak pernah merasakan. Kami hanya dengar nama saja. Dana kampung katanya ada, tapi sampai sekarang masyarakat masih menderita,” ujarnya.
“Cari uang susah. Mau beli garam, beras, tidak ada uang. Terpaksa masak sayur dengan air saja,” katanya. “Pemerintah harus perhatikan kami. Kampung ini harus jadi seperti kampung lain. Harus ada jalan, puskesmas, sekolah, air bersih,” ujar Yafet. (**)
Liputan ini disusun oleh Ikbal Asra, wartawan di Jayapura. Riset arsip oleh Abraham Utama.










