

Yuliana berkata, risiko besar juga dihadapi para perempuan Kampung Omon yang mengandung. Tanpa layanan kesehatan, persalinan mereka lakukan sendiri di rumah. “Di sini banyak ibu hamil yang meninggal. Meninggal saat melahirkan banyak terjadi di sini,” ujarnya.
Dalam situasi seperti ini, Yuliana marah, tapi juga sedih. “Dari zaman nenek moyang sampai sekarang, tidak pernah ada perubahan,” katanya.
“Dari dulu sampai sekarang kami harus pikul. Kami ini sudah capek, sudah bosan yang kayak begini,” ujarnya. Yuliana menyampaikan harapan sederhana kepada pemerintah yakni akses jalan, pendidikan, dan layanan kesehatan. “Kami sangat membutuhkan sekali dengan jalan. Kami sangat membutuhkan sekali pendidikan dan kesehatan,” katanya.
Keluhan serupa juga disampaikan oleh warga lainnya, Yafet Teet. Dia menuturkan, kehidupan yang berpindah-pindah mengikuti sagu sebagai sumber pangan utama, ketiadaan jalan, rumah layak, sekolah, dan layanan kesehatan masalah yang mereka sebut telah berlangsung turun-temurun tanpa perubahan berarti.
Saking kesalnya, Yafet menuliskan keluhannya di selembar karton. Pesan itu dia pajang di sepanjang jalur setapak menuju kampung, jalur yang sama dilalui warga saat memikul orang sakit atau membawa hasil buruan. “Kami baru bisa tinggal di Kampung Omon karena kepala kampung mulai bangun kampung ini.










